Paradigma Psikologi Kepribadian Trait

Paradigma merupakan suatu cara pandang yang membentuk individu dalam menyikapi suatu realita yang dihadapinya.

Menurut Denzin & LincAoln Paradigma adalah sistem keyakinan dasar atau cara memandang dunia yang membimbing peneliti tidak hanya dalam memilih metode tetapi juga cara-cara fundamental yang bersifat ontologis dan epistomologis.

688721-topic-ix-1

Psikologi merupakan suatu pembahasan yang menyangkut proses pembentukan perilaku, pola berfikir dan mental suatu individu.

( Richard Mayer,1981) Psikologi merupakan analisis mengenai proses mental dan struktur daya ingat untuk memahami perilaku manusia.

Trait merupakan hal yang mendasar pada kepribadian setiap individu sebagai penggambaran konsistensi respon yang dilakukan individu dalam situasi yang berbeda-beda.

Sifat (Trait) adalah “sistem neuropsikis yang digeneralisasikan dan diarahkan, dengan kemampuan untuk menghadapi bermacam-macam perangsang secara sama, memulai serta membimbing perilaku adaptif dan ekspresi secara sama” (Allport, 1951).

Trait sangat berkaitan dengan teori kepribadian, karena pada definisi trait sendiri menjelaskan bahwa kepribadian adalah hal yang mendasar.

Kepribadian adalah “suatu organisasi yang dinamis dari sistem-sistem psikofisis di dalam individu yang menentukan penyesuaian yang khas terhadap lingkungannya” (Allport,1937).

Teori Trait pertama kali dikemukakan oleh Gordon W. Allport. Selain itu terdapat juga 2 tokoh yang mengembangakan teori trait ini yakni Raymond B. Cattel dan Hans J. Eysenck.

Tingkat trait kepribadian dasar berubah dari masa remaja akhir hingga masa dewasa. McCrae dan Costa yakin bahwa selama periode dari usia 18 sampai 30 tahun, orang sedang berada dalam proses mengadopsi konfigurasi trait yang stabil, konfigurasi yang tetap stabil setelah usia 30 tahun (Feist, 2006).

Menurut Allport apabila terdapat beberapa individu memiliki trait yang sama tetap terdapat perbedaan di antara mereka, seperti hal nya mereka tidak selalu melakukan tindakan yang sama dan mereka memiliki cara mengekspresikan trait berbeda-beda. Perbedaan tersebut yang membuat setiap individu menjadi unik. Karena itu, Allport mempercayai bahwa individu hanya dapat dipahami secara parsial jika dalam menggunakan tes-tes norma kelompok.

THE BIG FIVE PERSONALITY

thebigfivepersonality

Big Five Personality Costa & McCrae (1997)

 

Allport dan Cattel mempelopori Big Five Personality . Big Five Personality merupakan suatu cara dalam psikologi untuk mengetahui kepribadian individu melalui trait yang tersusun atas domain-domain kepribadian berdasarkan analisis faktor. Ada lima trait kepribadian dalam Big Five Personality (Costa & McCrae,1997) yaitu extraversion, agreeableness, conscientiousness, neuoriticism, openness to experiences.

  • Extraversion

224353

Extraversion merupakan faktor pertama dalam domain kepribadian. Domain ini cenderung domain yang bersifat patuh dan faktor penting dalam kepribadian. Faktor ini dapat memperkirakan tingkah laku lingkungan sosial di sekitarnya. Menurut penelitian individu yang memiliki extraversion tingkat tinggi dianggap sebagai orang-orang yang ramah, penuh kasih sayang dan talkative.

Extraversion tinggi cenderung mudah bergaul, pandai berbicara, mudah mendapatkan banyak teman, mudah bosan dan lebih mudah menerima tantangan, kehidupan, termotivasi oleh perubahan dibandingkan dengan extraversion rendah yang cenderung menutup diri dari lingkungannya dan tenang.

  • Agreeableness

agreeable

Agreeableness dapat dikatakan juga social adaptibility atau likability yang mencirikan individu ramah, selalu mengalah, cenderung mengikuti orang lain dan menghindari konflik.Pada individu agreeableness tinggi pandai berinteraksi dengan orang lain dan bila menjumpai konflik percaya diri individu ini cenderung menurun. Namun pada agreeableness rendah terindikasi kurang aktif dalam berinteraksi dan cenderung lebih agresif.

  • Neuroticism

imgres

Neuroticism merupakan faktor kepribadian bagi individu yang cenderung menyelesaikan masalah dalam hal negatif dan mudah cemas. Individu dalam faktor ini juga memiliki tingkat percaya diri yang rendah, ketidakmampuan dalam berkomitmen dan menjalin hubungan. Berbeda dengan individu pada neuroticism rendah, mereka merasa lebih puas dan gembira dalam menghadapi hidup.

  • Openness

openness-main

Openness merupakan individu yang mempunyai ciri mudah bertoleransi, mudah fokus dan kemampuan untuk menghadapi perasaan, pemikiran dan impuls. Individu yang memiliki Openness yang tinggi teridentifikasi memiliki tingkat imajinasi yang cukup tinggi dan berwawasan luas dibandingkan dengan individu yang memiliki Openness rendah teridentifikasi memiliki pemikiran yang sempit, tidak respon dengan adanya perubahan dan konservatif.

  • Conscientiousness

blogi_vko5_kun-tunnollisuus-menee-overiksi

Conscientiousness dapat dikatakan juga dependability. Menurut kamus Inggris-Indonesia (John M. Echols and Hassan Shadily:173), dependable merupakan sebuah kata sifat, yang artinya dapat dipercayai atau diandalkan. Faktor ini mengidentifikasikan individu memiliki kontrol pada lingkungan sosial, selalu berpikir panjang untuk melakukan suatu tindakan, menahan untuk kepuasan diri, taat pada norma dan peraturan yang diberlakukan, pola pikir yang teroganisir dan mengutamakan tugas. Akibat faktor ini menjadikan individu terlihat sangat perfeksionis, membosankan dan kompulsif. Conscientiousness yang rendah memperlihatkan individu yang ceroboh, tidak terkendali dan perhatiannya mudah teralih.


 

 

Sumber Bacaan

Sunaryo. 2002. Psikologi Untuk Keperawatan. Jakarta:EGC

Hall, Calvin dan Gardner Lindzey. 1993. Psikologi Kepribadian 1 Teori-Teori Psikodinamik (Klinis) terjemahan Theories of Personality. (diterjemahkan oleh: Supratiknya). Yogyakarta:Kanisius

http://belajarpsikologi.com/pengertian-psikologi/ diaskses pada tanggal 3  Desember 2014 pukul 12.57 WIB

McCrae, R.R., & Allik, J. (2002). The Five Factor Model of personality across cultures. New York: Kluwer Academic/ Plenum Publishers.

Pervin, L. A. (1993). Personality: theory and research. (Ed. ke-6). Canada: John Wiley & Sons.
Pervin, L. A. (1996). The Science of personality. USA: John Wiley & Sons